Venture Capitalist : Antara Harapan dan Kenyataan

Berkecimpung dalam indahnya dinamika dunia Startup merupakan suatu pengalaman yang menarik dan berharga bagi saya. Berinteraksi dengan Founder & Co-Founder serta tim inti berbagai Startup adalah suatu keistimewaan tersendiri. Banyak informasi penting yang tidak terkuak oleh berbagai media yang saya dapatkan. Tentunya informasi ini memang tidak mungkin dibeberkan begitu saja, sebab dapat menimbulkan kekisruhan. Dan sebentar lagi informasi ini akan saya ungkapkan kepada Anda.

Baru-baru ini, dunia bisnis online di Indonesia sempat kisruh akibat dimuatnya berita mengenai keinginan Presiden Joko Widodo agar bisnis online Indonesia dapat tetap menjadi tuan di negaranya sendiri alih-alih dimiliki oleh asing demi menjadi pemain kelas dunia. Namun informasi tersebut rupanya sempat disalahartikan sebagai bentuk larangan terhadap investor asing untuk membeli (baca:investasi) bisnis online di Indonesia. (lihat artikel Dukungan Investor Lokal Mutlak Dibutuhkan Agar Bisnis Online Indonesia Berkelas Dunia)

Ini Harapannya

Pada artikel Masihkah Kita Butuh VC Asing? dipaparkan bahwa Venture Capitalist asing lebih mudah diyakinkan ketimbang VC lokal dalam konteks bisnis internet, mengingat karakteristik dari bisnis internet itu sendiri. Selain itu, jumlah VC asing pun jauh lebih banyak. Otomatis memang angka berbicara lah yah.

Selain kemudahan mendapatkan pendanaan, sepertinya para pebisnis internet di tanah air juga berharap para VC ini dapat memberikan bantuan akses ke berbagai pengetahuan dan jaringan global. Sebab kita (orang Indonesia) meyakini bahwa orang-orang asing tersebut telah memiliki pengalaman belasan hingga puluhan tahun di depan. Dan saya setuju dengan pemikiran yang sangat logis ini. Jauh lebih bijak belajar dari yang sudah pengalaman.

Catatan : Ada satu hal penting yang perlu diwaspadai. Bagi kebanyakan orang Indonesia, bangsa asing tampak lebih superior (baca:hebat). Hal ini dikarenakan cuci otak sejak kita masih kecil melalui (salah satunya) film luar negeri yang pahlawannya selalu orang luar negeri.

Dan Ini Kenyataannya

VC mungkin menjanjikan hal lain kepada para Startup yang hendak mendapatkan investasi, selain pendanaan tentunya. Sebab pendanaan saja tanpa dibekali berbagai akses pengetahuan dan jaringan bisnis akan sulit mengakselerasi sebuah perusahaan, terutama Startup. Dan beberapa Startup sudah mulai cukup cerdas untuk menyadari pentingnya hal ini.

Namun demikian kehidupan Startup yang telah mendapatkan pendanaan dari VC asing jarang diungkapkan. Pada kenyataannya, beberapa VC asing tidak menepati janji mereka kepada para Startup yang telah diinvestasi. Alih-alih mendapatkan bantuan ini itu, mereka hanya memberikan dana dan akses komunikasi untuk berkonsultasi. VC berharap Startup tersebut dapat bertumbuh sendiri dan Startup tersebut berharap VC dapat membantunya bertumbuh. Tet..tot… Gak match!

Penting : Tidak semua VC (asing) berperilaku demikian.

Ubah Permainannya

Menyikapi fenomena ini maka Startup perlu memposisikan diri sebagai seorang Pembeli. Ya, ubahlah permainan sehingga Anda yang MEMBELI VC! Pembeli yang cerdas adalah Pembeli yang pemilih. Yang namanya memilih, tentu berdasarkan indikator atau kriteria tertentu. Ibarat mencari pasangan, tentu Anda akan menjauhi yang tidak sesuai selera atau kriteria bukan?

Berikut ini adalah 5 langkah menuju pendanaan yang bahagia. Anda mau mendapat pendanaan dan makin stress, enggak kan?

  1. Apa yang Startup Anda Butuhkan
    • Buatlah daftar kriteria yang dibutuhkan oleh Startup Anda (dana, pengetahuan teknis, akses jaringan global, mentor, dukungan infrastruktur, dll). Semakin detil dan spesifik kriterianya, maka akan semakin pasti Anda menuju ke pendanaan yang bahagia.
  2. Siapa Investornya
    • Buatlah daftar calon investor (Venture Capital, Angel Investor dll) yang cocok dengan kriteria yang telah dibuat sebelumnya.
  3. Portofolio Investor
    • Buatlah daftar Portofolio investasi dari daftar calon investor
  4. Rekam Jejak Investor
    • Lakukanlah investigasi mendalam kepada Startup yang pernah diinvestasi oleh investor dalam daftar Anda agar Anda mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai perilaku sebenarnya dari masing-masing investor dalam daftar Anda.
  5. Buatlah Keputusan
    • Analisa informasi yang telah berhasil Anda kumpulkan dan putuskan manakah investor yang layak untuk Anda dekati.

Nah, bagaimana bila ternyata tidak ada investor yang sesuai dengan kriteria atau rekam jejaknya tidak sesuai dengan janjinya? Ini kembali kepada keptusan Anda dan tim. Apakah bersedia melonggarkan kriteria ataukah mau berjalan sendiri sembari menunggu investor yang tepat atau kemungkinan apapun. Anda seorang entrepreneur, Anda yang putuskan! Dan terima resikonya 🙂

#HackingBisnis

Leave a Reply