Kenapa Kenapa Kenapa-Kenapa

PERHATIAN : Artikel ini dapat menimbulkan SEDIKIT sakit hati bagi beberapa pembacanya!

Anda mungkin bingung dengan judul di atas dan bertanya-tanya dalam diri, apa sih maksud dari judul tersebut. Ada beberapa kata yang sengaja dihilangkan dari judul tersebut sehingga akan membingungkan yang membacanya. Kalau saya tambahkan unsur pelengkapnya, maka akan menjadi “Kenapa, kata ‘Kenapa’ itu Kenapa-Kenapa”. Sudah jelas?

Kenapa Kenapa Bermasalah

Selama hampir 7 tahun berkecimpung dalam komunitas pemberdayaan diri (yang terperdaya?), saya menemukan tidak sedikit praktisi dalam keilmuan NLP (Neuro-Linguistic Programming) dan Coaching yang seolah-olah tabu terhadap kata “Kenapa”. Sedangkan dalam bidang motivasi dan bisnis, yang telah lebih dahulu saya geluti sebelum NLP, saya menemukan konsep yang agak bertolak belakang!

Mungkin Anda pernah mendengar dalam NLP kata “Kenapa” atau “Why” sangat diharamkan. Salah satu keyakinan yang beredar di kalangan praktisi NLP adalah proses itu lebih penting. Sehingga bila proses diubah, maka hasil akan ikut berubah. Oleh karena itu, NLP lebih menekankan penggunaan kata “Bagaimana” atau “How” agar dapat mengungkap proses.

Sedangkan dalam beberapa literatur Coaching, kata “Kenapa” juga dihindari penggunaannya. Beberapa alasan yang saya temukan mengapa dihindari adalah dikhawatirkan akan mengakibatkan :

  • Pembenaran
  • Munculnya sikap defensif

Berbeda lagi dalam dunia motivasi dan bisnis yang justru lebih menekankan kata “Kenapa” ketimbang kata “Bagaimana”. Anda akan selalu menemukan slogan yang kurang lebih seperti berikut : “Jika Anda punya ‘Kenapa’-nya maka ‘Bagaimana’-nya tidak menjadi masalah’. Nah, ini serupa dengan ucapan Viktor Frankl, seorang Neurologis dan Psikiatris pencetus Logotherapy.

Those who have a ‘why’ to live, can bear with almost any ‘how’.

Nah loh… Viktor Frankl ‘kan juga dari ranah pemberdayaan diri. Kok tidak seperti NLP dan Coaching yang agak alergi dengan kata ‘Kenapa’?

Siapa yang Salah?

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “Kenapa” dijabarkan sebagai kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan. Dan Merriam Webster menjabarkan kata “Why” digunakan untuk menanyakan reason (alasan) atau purpose (tujuan).

Oleh karena itu, Anda perlu menyadari di mana hendak meletakkan kata “Kenapa”. Sebab kata ini dapat memperkuat pernyataan yang mengikutinya. Contoh :

  • Kenapa saya perlu menjadi pengusaha?
  • Kenapa saya tidak cocok menjadi pengusaha?

Ketika Anda menanyakan masing-masing pertanyaan di atas kepada diri Anda sendiri, percayalah Anda kan selalu menemukan jawaban yang mendukung dari masing-masing pertanyaan tersebut. Artinya, Anda perlu waspada bagaimana Anda menyusun pertanyaan.

Nah di sisi lain, NS (Neuro-Semantics) NLP mengambil langkah yang agak berbeda dari aliran NLP pada umumnya. Meta Questions NS-NLP malah menggunakan kata “Kenapa” untuk menggali value.

Jadi, biang keroknya bukanlah kata “Kenapa”, melainkan orang yang tidak paham arti kata “Kenapa”, sehingga cara menggunakannya pun salah.

 

Dapatkan artikel dan informasi SPESIAL lainnya dengan menuliskan Nama & Email Anda. SAAT INI JUGA!

Leave a Reply