Brand Value – Sebuah Catatan Tak Lengkap

16 April 2016 yang lalu, saya menyempatkan diri untuk mengikuti seminar Advance Biz Talk yang diselenggarakan oleh komunitas Road to Entrepreneur. Pembicaranya keren-keren! Sesi pertama diisi oleh Abraham Viktor Co-Founder & CEO TaraLite, masuk dalam 30 Under 30 Asia versi Forbes. Sesi kedua diisi oleh Tanya Alissia, GM PT. Central Mega Kencana yang telah berpengalaman tahunan dalam menangani Integrated Marketing Communication dari empat brand perhiasan ternama.

Pada tulisan ini saya ingin sedikit meringkas apa yang saya pelajari (baca:masih ingat) di sesi Tanya Alissia dengan topik Brand Value.

Apa Sih Brand?

Pada umumnya, ketika orang mendengar kata brand, yang muncul dalam benak adalah produk/jasa yang dibubuhkan logo, selesai. Kemudian dengan naifnya mengira dapat menjual produk/jasanya dengan harga tinggi. Oh… tidak demikian. Tidak secepatnya itu, perjalanannya masih panjang.

Sebagai contoh adalah Aqua. Sekarang ini sudah sangat lazim bila kita minta air mineral, kita menyebutnya Aqua; meskipun yang diberikan brand lain. Perjalanan Aqua agar dapat seperti hari ini bukanlah singkat. Perlu mendidik pasar agar mau mengubah kebiasaan mengkonsumsi ‘air putih’ dalam kemasan. Tanya mengatakan, brand value terbesar saat ini adalah Apple.

Selanjutnya Tanya Alissia mengutip definisi brand dari Seth Godin:

A brand is the set of expectations, memories, stories and relationships that, taken together, account for a consumer’s decision to choose one product or service over another

Apa yang Kamu Jual?

Ada yang membedakan antara menjual produk yang sudah memiliki brand value dengan yang tidak, meskipun sama-sama mahal. Produk yang memiliki brand value akan menjual cerita dibalik produk tersebut. Baik komponen penyusunnya hingga proses terciptanya produk tersebut, sehingga calon pembeli dapat memaklumi harga yang disematkan. Sebaliknya, produk yang tidak memiliki brand value akan langsung menjual harga produk.

Salah satu studi kasus singkat yang diangkat dari salah satu peserta adalah bagaimana menjual kitchen sets premium. Kitchen sets premium perlu dijual dengan cerita. Ajak calon pembeli membayangkan dirinya dapat memasak dengan percaya diri layaknya Jamie Oliver ataupun Nigella Lawson (kalau Anda hobi memasak mestinya mengenal nama-nama ini). Target pasarnya juga tidak harus rumah yang baru dibangun, tetapi siapapun yang memiliki dapur namun ingin memiliki PD seperti Jamie Oliver ataupun Nigella Lawson.

Brand dan Perilaku Konsumen

Brand terkait erat dengan perilaku konsumen. Oleh karena itu, Tanya menampilkan data riset Nielsen (lembaga riset mengenai konsumen dan perilaku konsumen) mengenai pembagian kelas konsumen beserta spending power (daya beli). Konsumen kelas A – golongan makmur – hanya sekitar 4%, namun memiliki daya beli sekitar 30%.

Nielsen juga menemukan bahwa pasar sudah mulai menunjukkan kepercayaan bahwa keadaan ekonomi mulai membaik dibanding tahun 2015. Akibatnya mereka mulai berani untuk berbelanja.

Oleh karena itu riset selanjutnya adalah mengenai perilaku belanja orang Asia – Indonesia termasuk loh. Ada beberapa kategori yang mana orang Asia suka untuk membelanjakan uangnya, yaitu (urutan dari yang paling tinggi): Holidays/Vacations, New Cloths, Home Improvements, New Technology, Out-of-Home Entertainment. Tanya menjelaskan, New Cloths tidak berarti hanya pakaian, melainkan hal-hal pendukungnya, seperti perhiasan 🙂

Meski agak sedikit out-of-topic (keluar topik), Tanya menjelaskan bahwa data riset tersebut merupakan petunjuk bagi para entrepreneur ada peluang untuk memulai usaha.

Brand Building

Kembali ke brand, dari beberapa hal penting yang perlu dimiliki saya hanya ingat dua, yaitu: Personal Branding, Become Expert dan Momentum. Anda adalah cerminan dari brand Anda, oleh karena itu Anda perlu memperhatikan bagaimana Anda berbusana dan lain sebagainya. Dan ketika calon konsumen datang kepada Anda, mereka ingin berhubungan dengan ahlinya. Oleh karena itu bebicaralah mengenai produk Anda, bukan politik ataupun yang lainnya. Anda perlu memanfaatkan keadaan dimana pasar dalam keadaan siap untuk belanja, ini yang disebut sebagai momentum; misalnya: hari raya ataupun hari penting lainnya.

Rebranding

Salah satu peserta bertanya mengenai kapan waktunya Rebranding. Menurut Tanya, Rebranding adalah langkah terakhir yang dapat diambil. Sebab tidak hanya perkara mengganti logo, tetapi juga penyesuian disana-sini. Termasuk tata ruang, komposisi warna ruangan, produk/jasa, seragam dan lain sebagainya. Ini semua memakan waktu dan biaya. Oleh karena itu, perlu analisa yang akurat dan mendalam terhadap produk dan perilaku konsumen sebelum memutuskan rebranding.

Brand Premium dan Kosumen Kelas A

Memasarkan produk premium kepada kelas A dan A+ memiliki keunikan tersendiri. Konsumen kelas ini hanya memperhatikan dua hal: Dirinya sendiri dan Kesehatan/Keamanan. Pengalaman Tanya dalam menangani kelas istimewa ini menunjukkan mereka ingin customization. Anda perlu datang kepada mereka, siapkan media untuk mencatat dan tanyakan apa yang mereka inginkan.

#HackingBisnis

“Exploit Your Business to Ultimate Profit”

Dapatkan artikel dan informasi SPESIAL lainnya dengan menuliskan Nama & Email Anda. SAAT INI JUGA!

Leave a Reply